Presiden KAI, Siti Jamaliah Lubis Sebagai Tokoh Srikandi yang Berani dan Inspiratif
Mia Lubis dinilai sebagai tokoh srikandi yang berani, inspiratif dan satu-satunya wanita yang memimpin organisasi advokat di Indonesia.
Entah kenapa, ya? Seseorang dengan profesi advokat belakangan ini kerap kali dikenal sebagai orang dengan ciri-ciri eksentrik, penuh sensasi, glamour dan kaya raya. Mungkin saja, lantaran sehari-hari sering berurusan dengan para klien maupun lawan-lawan klien yang kebanyakan dari golongan sangat kaya raya, sehingga penampilan seorang advokat juga harus mengimbangin. Mungkin saja begitu.
Tapi, fenomena itu jelas memprihatinkan. Oleh karena pada jaman dahulu kala, pada profesi ini melekat karakter-karakter mulia seperti intelek, berintegritas, jujur, dan profesional dalam bertugas. Tanpa sensasi-sensasian.
Hal ini kontan menjadi sorotan seorang advokat senior Siti Jamaliah Lubis, S.H. Dalam berbagai kesempatan, wanita yang juga Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI) ini tegas menandaskan kepada para advokat-advokat muda untuk memegang prinsip bahwa profesi advokat adalah profesi yang mulia, bukan hanya sekedar pamer harta dan kesuksesan. Banyak senior-senior tokoh advokat besar yang bisa dijadikan teladan bagi para advokat muda. Seperti Martokoesoemo, Yap Thiam Hien, Profesir Doktor Soepomo dan Prof Adnan Buyung Nasution.
“Kesederhanaan hidup para tokoh-tokoh besar itu bisa diteladani generasi muda saat ini,” ujar wanita yang biasa disapa Kak Mia ini. “Jadi untuk generasi muda yang akan terjun pada bidang hukum baik itu sebagai hakim, jaksa, polisi maupun advokat, contohlah senior-senior tersebut dan menjadi rujukan untuk memimpin di kemudian hari.“
Mia yang juga adik kandung advokat legendaris almarhum Indra Sahnun Lubis ini juga menyoroti tingkah laku para advokat senior, yang kerap memanfaatkan celah dalam organisasi advokat, untuk loncat sana sini pabila kena sanksi akibat ulahnya sendiri di salah satu organisasi advokat. “Si advokat langsung loncat ke organisasi advokat yang lain. Ini kelemahan yang harus segera diperbaiki,“ ucap Mia.
Oleh karena itu, kata Mia, penting untuk segera dibuatkan satu kode etik untuk seluruh advokat di Indonesia. Profesi ini terdiri dari ratusan ribu, bahkan jutaan, advokat. Tanpa adanya satu ketegasan yang dihimpun dalam satu kode etik profesi, maka tingkah polah ugal-ugalan para oknum advokat akan selalu lolos dari sanksi organisasi advokat mana pun.
Tapi, tidak di KAI. Sebagai pemegang pucuk pimpinan di organisasi beranggotakan puluhan ribu advokat, wanita kelahiran Asahan, 10 Maret 1960 di Sumatera Utara ini tampil sebagai sosok yang tegas dalam mengambil keputusan.
Tanpa sungkan, Mia berani memutuskan untuk memecat anggotanya apa bila nyata-nyata terbukti merugikan masyarakat untuk pencari keadilan. Dan, itu dilakukan Mia beberapa waktu lalu.
Begitu ia yakin dengan kebenaran yang bisa dibuktikannya sendiri, maka ia tak segan-segan memutuskan pilihan yang berakibat pemecatan. Hal tersebut dia lakukan jelas demi kebaikan organisasi yang ia pimpin.
Dengan kepemimpinan seperti itu, Mia kerap mendapat penghargaan dari berbagai pihak. Bahkan, baru-baru ini, KAI semakin mengukuhkan diri sebagai organisasi advokat yang dan terpercaya, setelah Mia dan dua pejabat KAI lainnya, meraih penghargaan Tokoh Indonesia Tahun 2021-2022 yang diberikan oleh Yayasan Penghargaan Indonesia (YPI) Minggu, 30 Oktober 2022 di Cambria Ballroom, The Vasini Smart Beautique Hotel, Denpasar Bali.
Ketiga pimpinan yang meraih penghargaan itu antara lain adalah Presiden KAI Siti Jamaliah Lubis S.H yang mendapatkan kategori Penghargaan Indonesia Women Inspiring Award atau Perempuan Inspiratif Indonesia. Mia Lubis dinilai sebagai tokoh srikandi yang berani, inspiratif dan satu-satunya wanita yang memimpin organisasi advokat di Indonesia.
Mia selalu berpegangan pada prinsip Berani, Jujur, dan Berintegritas, sehingga bisa dipercaya oleh seluruh anggota serta menjadi contoh bagi mereka. Diawali Januari 2018 dengan menjadi Pejabat Pelaksana Presiden KAI. Kemudian, terpilih sebagai orang nomor satu di DPP KAI pada November 2019. Sebelumnya, Mia sempat menjadi Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI).
Atas posisinya sebagai Presiden KAI, Mia merasa bersyukur. Tidak semua orang, khususnya kaum hawa bisa memimpin organisasi yang 85 persen, isinya advokat pria. Ini menjadi kebanggaan secara pribadi, tutur Mia yang menjadikan kakaknya, almarhum Indra Sahnun Lubis, abang kandungnya sebagai inspirasi dan teladan dalam kehidupannya.
Ia pun mengenang Indra Sanun Lubis yang biasa ia panggil bang Indra, karakter Indra Sahnun yang keras dan tegas dalam menjalankan prinsip. Beliau berjuang sampai akhir hayatnya untuk memajukan organisasi ini, sampai beliau sendiri memimpin demo di Mahkamah Agung dan DPR demi menegakan marwah organisasi yang hasilnya sudah bisa dirasakan oleh para advokat-advokat muda, pungkasnya kagum dan bangga.
Alhasil, dengan ketegasannya itu, KAI dapat terus berdiri tegak lurus sebagai organisasi advokat yang berintegritas, profesinal dan religius. Dan ini melekat benar pada diri para anggota KAI di dalamnya.