Konsekwensi Hukum Cover Lagu Tanpa Izin Dalam Perspektif UU No. 28 Tahun 2014, Tentang Hak Cipta

0 1

Konsekwensi Hukum Cover Lagu Tanpa Izin Dalam Perspektif UU No. 28 Tahun 2014, Tentang Hak Cipta. (Dalam Rangka Hari Musik Nasional)

Dulu di era pruduksi musik secara analog (analog recording) seseorang yang mau menjadi musisi atau penyanyi profesional apalagi untuk tujuan komersial, bukan hal yang mudah. Apalagi kemampuan musikalitasnya pas-pasan, itu agak susah. Hal itu berpengaruh terhadap kualitas hasil produksi musik yang sangat berkualitas di era itu.  Maka tak heran produk musik yang lahir di era analog, sangat jauh berbeda baik secara mutu maupun secara rasa oleh penikmat musik.

Karena di era itu semuanya serba manual, yang banyak membutuhkan sumber daya manusia musisi sesuai bidangnya masing-masing untuk menghasilkan sebuah karya musik. Apalagi saat itu, bicara studio rekaman adalah sesuatu yang sangat asing dan mahal, sangat jarang dan mudah di hitung. Hanya orang-orang tertentu yang bisa tembus kesana. Maka tak heran di era analog, banyak lahir grup-grup band berkualitas, baik internasional maupun lokal. Dari situ banyak yang melahirkan musisi-musisi hebat, misalnya gitaris top, drumer top, vokalis top dll. Bahkan tak sedikit yang menjadi legenda di dunia musik yang memiliki fans masing-masing sampai saat ini.

Dalam hal teknis, proses produksi musik di era analog recording ketika anda salah sedikit, harus ulang dari awal, dalam setiap item instrumen musik yang di isi, maupun merekam vokal si penyanyi. Jadi penyanyi yang vokalnya fals (sumbang) pasti tidak mungkin bisa masuk dapur rekaman. Di era itu melahirkan satu album dalam setahun adalah sebuah prestasi yang luar biasa.

Memasuki di era di gital, kemajuan teknologi produksi musik secara digital (digital recording) benar-benar tak bisa dibendung. Seorang hanya butuh satu komputer atau laptop bisa menjadi seorang arranger,  meski hanya dikerjakan dalam kamar tidur (home recording) secara suka-suka. Di Indonesia, dalam era digital banyak melahirkan karya-karya musik fenomenal dari seluruh penjuru negeri. Namun tak sedikit banyak yang memproduksi ulang karya orang lain yang sudah ada, secara tanpa izin dan tanpa hak  untuk tujuan komersial di media digital musik online miliknya.

Tak bisa dipungkiri setiap muncul tekologi baru atau teknologi terbarukan, selalu memanjakan bahkan menguntungkan manusia, namun di sisi lain bisa merugikan pihak tertentu. Termasuk salah satunya teknologi audio/video player sejak era piringan hitam, cassette, video cassette, laser disk, compact disk, video disc, mp4, mp3 dll.

Memasuki era digital belakangan ini kita dimanjakan dengan berbagai macam platform media musik atau aplikasi-aplikasi musik yang bisa dinikmati secara online baik yang bersifat audio maupun visual diantaranya youtube, spotify, tiktok, snackvideo dan lain-lain. Anehnya semuanya dengan gampangnya, cukup membuat judul cover meski tanpa izin,  lalu menikmati hasil iklan dari video hasil karya orang lain sebelumnya serasa tanpa dosa.

Hak Ekonomi Pencipta atau Pemegang Hak.

Pasal 8 UUHC menyebutkan Hak ekonomi merupakan hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat ekonomi atas ciptaanya, berikutnya dilanjutkan pasal 9 (search please). Isi pasal 9 ayat 4 menyatakan: Setiap orang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta, dilarang penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial ciptaan.

Saat ini banyak platform digital yang menggunakan karya cipta lagu milik orang lain tanpa izin, baik perorangan maupun label atau pihak yang pertama kali yang memproduksi maupun mendistribusi lagu milik pencipta. Padahal pasal 18 UUHC dinyatakan: Ciptaan buku dan/atau semua hasil karya tulis lainnya, lagu dan/atau musik, dengan atau tanpa teks yang dialihkan dengan jual beli putus dan/atau pengalihan tanpa batas waktu, hak ciptaanya beralih kembali kepada pencipta pada saat perjanjian tersebut mencapai batas waktu 25 tahun. Jadi,  kalau label tertentu yang membuat chanel youtube menggunakan karya cipta milik pencipta seperti penjelasan pasal 18 diatas, adalah perbuatan melawan hukum.

Sebelum anda mengklaim karya cipta anda,  jangan lupa daftarkan karya anda di e-hakcipta.dgip.go.id. Sehingga sah sebagai alat bukti, bahwa anda atau ahli waris adalah pemegang hak sebenarnya secara hukum.

Untuk tujuan komersial di platform musik digital online, lebih baik menggunakan karya sendiri mungkin itu jelek bagi orang lain, daripada menggunakan karya orang lain dengan cara melanggar. Karena konsekuensi channel/akun anda akan di ‘take down’ oleh pihak user,  apabila ada klaim dari pihak-pihak yang merasa di rugikan. Selain itu anda bisa terancam pidana sesuai yang di atur pada Pasal 113 ayat (4) UUHC yaitu bahwa setiap orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta, yaitu salah satunya penggandaan,”penggunaan secara komersial” , pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah). Selain itu si pelanggar bisa di tuntut secara perdata dalam kategori perbuatan melawan hukum.

Penulis: Tobbyas Ndiwa, SH – Advokat dan Konsultan Hukum & Anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI-ISL)

Leave A Reply

Your email address will not be published.