Jakarta, DPP KAI – Presiden Kongres Advokat Indonesia (KAI), Siti Jamaliah Lubis S.H mencermati tingkat polusi udara yang mencemari Jakarta. Menurutnya harus ada jalan keluar yang nyata untuk menyelesaikan masalah ini, karena dampaknya berakibat sangat buruk kepada masyarakat. Mia Lubis menyoroti hal ini, karena isu polusi udara juga dibahas dalam debat perdana Pilgub Jakarta, Minggu (6/10).
“Saya sangat tertarik apa yang disampaikan oleh paslon 1 yaitu itu Bapak Ridwan Kamil dan Pak Suswono yang membicarakan soal polusi ini dan kita tahu bersama, polusi yang ada di Jakarta ini sekarang nomor tiga terjelek di dunia. Ini bukan sesuatu yang bisa kita abaikan karena ini menyangkut untuk kesehatan masyarakat,” katanya di Jakarta, Senin (7/10/2024).
Mia melanjutkan bahwa ide penanaman ribuan pohon di Jakarta tentu menjadi salahsatu solusi yang konstruktif dan membantu lingkungan di Ibukota menjadi hijau dan manfaatnya akan dirasakan warga. Secara khusus, Mia mengajak seluruh Paslon Pilkada DKI Jakarta untuk bersatu memusatkan perhatian terkhusus mengenai polusi udara ini
“Ide penanaman pohon sebanyak 3.000 pohon di Jakarta ini, itu sangat menolong juga, tetapi belum akan maksimal jika tidak mendapat dukungan. Untuk itu, mari para calon gubernur bersatulah untuk membicarakan polusi yang tinggi sekarang ini, karena ini menyangkut kesehatan kita bersama,” tambahnya.
Dalam kesempatan itu, Mia juga menceritakan bahwa dirinya ikut terdampak polusi udara, sehingga membuatnya batuk-batuk dan harus memeriksakan diri ke dokter, bahkan hingga terbang ke negeri Jiran malaysia, sampai melakukan rontgen. Hasilnya, dokter mengatakan bahwa penyebab batuk adalah dampak dari polusi yang tinggi di Jakarta.
“Saya tentu tidak mau juga para sahabat, saudara saya mengalami hal yang saya alami. Terima kasih saya untu Pak Ridwan Kamil dan Pak Suswono yang mau berpikir untuk menurunkan polusi yang ada di Jakarta dengan penanaman pohon 3.000. Semoga ini terlaksana dan kita semuanya mari menjaga kebersihan agar Jakarta ini menjadi kota yang bersih tanpa ada polusi, terima kasih,” tutupnya.
Beberapa waktu ini, Jakarta dinobatkan sebagai 3 teratas kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Survei yang keluar dari IQAir ini sudah selayaknya mendapatkan tanggapan serius dari semua pihak.
Sebagai pengayom masyarakat, peran pemerintah dan kebijakan publik yang mereka buat sangat penting pengaruhnya bagi perbaikan kualitas udara di Jakarta.
Strategi yang pemerintah ciptakan melalui berbagai kebijakan publik menjadi faktor penentu apakah kualitas lingkungan semakin baik ataupun semakin memburuk. Sebab tanpa adanya campur tangan dari pemerintah, maka sangat kecil kemungkinan untuk memperbaiki kondisi lingkungan.